Kolaborasi Jepang–BRIN–BRIDA Jatim: Drone Pengangkut 50 Kg untuk Banjir dan Pemulihan Hutan



RADARNKRI1NEWS,Surabaya — Sebuah langkah besar dalam inovasi kebencanaan dan konservasi lingkungan tengah dirintis melalui kolaborasi antara Incidence Command System (ICS) dan Trajectory dari Jepang, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Riset, Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Timur dan Universitas Budi Luhur Jakarta. Kerjasama dalam mengembangkan drone berdaya angkut besar—mampu membawa beban hingga 50 kilogram—yang dirancang khusus untuk pemetaan jalur drone, membantu penanganan bencana banjir serta mendukung rehabilitasi hutan di wilayah Jawa Timur.



Solusi dari Langit untuk Daerah Rawan Banjir
Teknologi drone heavy-lift ini hadir sebagai jawaban atas tantangan distribusi bantuan di wilayah terdampak bencana. Saat banjir atau longsor menutup akses jalan, distribusi logistik sering kali menjadi masalah utama. Drone berkapasitas 50 kilogram tersebut dirancang untuk mengangkut berbagai kebutuhan darurat, mulai dari makanan, obat-obatan, air bersih, hingga peralatan penyelamatan, langsung menuju lokasi-lokasi yang terisolasi.
Selain pengiriman bantuan, drone juga dapat digunakan untuk keperluan pemantauan wilayah terdampak, mengumpulkan data visual secara real-time, dan mempercepat proses pengambilan keputusan dalam penanganan bencana. Dengan kemampuan terbang di medan ekstrem, drone ini diharapkan mampu memperkuat sistem tanggap darurat di daerah-daerah yang sulit dijangkau.

Pemprov Jatim: Inovasi Sejalan dengan Agenda Pembangunan
Adhy Karyono, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur menyambut baik kolaborasi riset ini. Ia menegaskan bahwa inovasi teknologi berbasis kebutuhan lokal seperti ini sangat relevan dengan arah pembangunan daerah.
“Secara kebijakan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendukung penuh riset ini karena selaras dengan arah pembangunan daerah, pengurangan risiko bencana, dan perlindungan lingkungan hidup,” ujar Adhy.
Pemerintah Provinsi juga siap memberikan dukungan nyata, mulai dari fasilitasi uji coba lapangan, integrasi dengan perangkat daerah, hingga penyusunan regulasi agar teknologi drone dapat diadopsi secara berkelanjutan. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat sistem mitigasi bencana dan mempercepat respons terhadap situasi darurat di lapangan.

BRIN: Riset Terapan dengan Dampak Nyata
Dari pihak BRIN, kolaborasi ini menjadi bagian dari riset terapan nasional yang menitikberatkan pada solusi praktis di lapangan. Peneliti BRIN menjelaskan bahwa proyek ini bukan sekadar demonstrasi teknologi, melainkan wujud nyata dari riset yang menjawab kebutuhan masyarakat.
“Riset ini kami rancang bukan sekadar demonstrasi teknologi, tetapi sebagai jawaban atas kebutuhan riil daerah rawan bencana dan kawasan hutan yang sulit dijangkau,” kata Mu’man Nuryana, PhD., peneliti BRIN.
Melalui kerja sama dengan lembaga riset Jepang, proyek ini menggabungkan keunggulan dalam desain dan navigasi presisi dengan pemahaman mendalam tentang kondisi geografis Indonesia. Hasilnya, diharapkan lahir teknologi drone yang tidak hanya canggih, tetapi juga relevan dan dapat dioperasikan secara efektif di berbagai kondisi ekstrem.

Jepang: Menggabungkan Pengalaman dan Pengetahuan Lokal
Bagi tim peneliti Jepang, yang dihadiri  oleh Expertice delegasi CIS & Trajectory: Prof Igarashi - Incidence Command System (ICS), Prof Ebine  - drone engineering, Mr. Koseki - UAS line operations, Ms Nemoto - drone line operations, kolaborasi ini menawarkan kesempatan untuk mengembangkan teknologi yang adaptif terhadap kondisi geografis unik Indonesia. Dengan latar belakang pengalaman Jepang dalam mitigasi bencana dan teknologi robotik, mereka berupaya menyesuaikan desain drone agar mampu beroperasi di lingkungan tropis yang penuh tantangan.
“Kolaborasi ini memungkinkan pertukaran pengetahuan yang saling menguatkan. Kami belajar dari kondisi lapangan di Jawa Timur, sementara teknologi drone dikembangkan agar benar-benar adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan lingkungan, dan pengembangan peta jalur drone di Jawa Timur” ujar Prof Igarashi, Expertice delegasi CIS & Trajectory dari pihak Jepang. 
Riset pengembangan drone ini belum dilakukan di kawasan Eropa, Amerika, maupun Asia lainnya, dan saat ini tengah dilaksanakan di Surabaya, Jawa Timur. Provinsi Jawa Timur dipandang sebagai “laboratorium alam” yang ideal karena memiliki topografi beragam—dari pesisir hingga pegunungan—serta tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana alam, menjadikannya lokasi yang tepat untuk pengujian dan penyempurnaan teknologi drone ini.
“Kami melihat potensi besar Jawa Timur sebagai pusat riset dan pengembangan teknologi kebencanaan. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan bahwa hasil riset dapat langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan daerah dan masyarakat,” ujar Kepala BRIDA Jawa Timur.
Sementara itu, Ketua Pusat Kebijakan Publik di Pusat Penelitian Kebijakan Publik di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yanuar Farida Wismayanti, Ph.D., menambahkan, “Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk membangun kapasitas nasional dalam teknologi drone heavy-lift. Surabaya menjadi titik awal yang penting untuk menguji integrasi teknologi, kinerja, dan kesiapan sistem dalam kondisi nyata di lapangan.”
Dari sisi akademik, Prof. Arief dari Universitas Budi Luhur Jakarta menegaskan pentingnya sinergi antara riset, industri, dan pendidikan tinggi. “Kami berperan dalam pengembangan dan efisiensi drone. Kolaborasi lintas institusi ini menjadi contoh nyata bagaimana universitas dapat berkontribusi langsung pada solusi teknologi untuk kemanusiaan dan lingkungan,” ujarnya.



Drone untuk Rehabilitasi Hutan
Selain mitigasi bencana, proyek ini juga menargetkan pemulihan kawasan hutan melalui metode penyemaian benih dari udara. Drone akan digunakan untuk menebarkan kapsul semai berisi benih tanaman lokal di kawasan hutan terjal atau daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
“Tahura Raden Soerjo memberikan gambaran nyata tentang tantangan lapangan yang akan kami hadapi. Medan yang curam dan akses terbatas menjadi alasan kuat mengapa pendekatan berbasis drone sangat relevan,” ujar salah satu peneliti BRIDA Jawa Timur. “Dengan teknologi ini, kami dapat mempercepat penyemaian benih dan memantau kondisi hutan secara berkala tanpa harus menurunkan banyak personel ke area berisiko tinggi.” Ujar Prof. Hamid, peneliti BRIDA Jawa Timur.
Pendekatan ini menawarkan berbagai keunggulan: lebih cepat, lebih aman, dan lebih efisien dibandingkan metode manual. Selain itu, penggunaan drone memungkinkan pemetaan wilayah yang lebih akurat serta monitoring pertumbuhan tanaman secara berkala.
Sebagai bagian dari tahap awal riset, tim gabungan Indonesia–Jepang telah melakukan survei lapangan di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo. Survei tersebut mengidentifikasi sejumlah tantangan utama seperti medan ekstrem, keterbatasan akses logistik, serta kebutuhan pengawasan rutin terhadap potensi longsor dan kerusakan hutan.

Arah ke Depan: Model Nasional Inovasi Kebencanaan
Kolaborasi riset ini bukan hanya tentang menciptakan teknologi baru, tetapi juga membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Pemerintah daerah, lembaga riset nasional, dan mitra internasional diharapkan dapat terus bersinergi untuk memperkuat sistem mitigasi bencana dan rehabilitasi lingkungan di Indonesia.
Jika pengembangan ini berhasil, drone heavy-lift hasil kolaborasi Jepang–BRIN–BRIDA Jatim berpotensi menjadi model nasional pemanfaatan teknologi untuk penanggulangan bencana dan konservasi alam. Selain mempercepat penanganan di lapangan, inovasi ini juga membuka jalan bagi transformasi kebijakan berbasis sains dan teknologi di tingkat daerah.
Dengan visi menjadikan Jawa Timur sebagai pelopor inovasi kebencanaan dan konservasi berbasis teknologi, proyek ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antarnegara dan lembaga dapat menghasilkan solusi konkret untuk tantangan kemanusiaan dan lingkungan.

Kolaborasi Jepang, BRIN, dan BRIDA Jatim dalam mengembangkan drone heavy-lift ini menunjukkan bagaimana riset lintas negara dapat menghadirkan inovasi berdaya guna tinggi. Teknologi ini tidak hanya menjadi simbol kemajuan ilmiah, tetapi juga bukti bahwa inovasi dapat berakar pada kebutuhan masyarakat dan lingkungan. Jika berhasil diimplementasikan, Jawa Timur akan berada di garis depan dalam pemanfaatan teknologi drone untuk mitigasi bencana dan rehabilitasi hutan di Indonesia.

Penulis: 
Prof.Dr.Ir.Abdul Hamid.MP
(Peneliti Ahli Utama BRIN/BRIDA Jawa Timur)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perkembangan IQ mengenal modul pembuatan sound system mini dengan kerja system modul lampu led warna warni

Arogan..!! Beredar Vidio Gerombolan Diduga Oknum Anggota Sakera Menyerang dan Mengeroyok Pemilik Cafe Edelweis PurwosariPerbesar